KEBUDAYAAN YANG MEMBELENGGU SUKU DAYAK

KEBUDAYAAN YANG MEMBELENGGU SUKU DAYAK

          Suku dayak merupakan penduduk asli pulau Kalimantan. Masyarakat daya ini mempunyai adat kebudayaan yag sangat beragam. Bahkan antara suku dayak juga mempunyai perbedaan adat kebudayaan, sehingga menciptakan keanekaragaman budaya. Budaya yang tercipta tidak hanya menimbulkan sisi positif  bagi masyarakat sekitar. Tetapi juga menimbulkan suatu masalah atau berdampak negatif  bagi masyarakat setempat (khususnya suku dayak).

Dalam tradisi upacara pemakaman suku dayak terdapat berbagai macam bentuk upacara :tarian upacara kematian

1. Ejambe, yaitu upacara kematian yang pada intinya pembakaran tubuh jenazah. Pelaksanaan upacaranya sepuluh hari sepuluh malam.

2. Ngadatun, yaitu upacara kematian yang dikhususkan bagi mereka yang teewas dalam peperangan atau bagi para pemimpin rakyat yang terkemuka yang mempunyai nilai kedudukan tinggi. Pelaksanaannya tujuh hari tujuh malam.

3. Mia, yaitu upacara membatur yang pelaksanaannya selama lima hari lima malam.

4. Ngatang, yaitu upacara mambatur yang setingkat di bawah upacara Mia, karena pelaksanaannya hanya satu hari satu malam.
5. Siwah, yaitu kelanjutan dari upacara Mia yang dilaksanakan setelah empat puluh hari sesudah upacara Mia. Pelaksanaan upacara Siwah ini hanya satu hari satu malam. Inti dari upacara Siwah adalah pengukuhan kembali roh si mati setelah dipanggil dalam upacara Mia untuk menjadi pangantu keworaan (sahabat pelindung sanak keluarga).

Isi dari berbagai upacara kematian biasanya berupa pergelaran berbagai kesenian atau tari-tarian tradisional Dayak Maanyan seperti Gintur, Giring-Giring, Dasas, Ebu Lele, dan sebagainya, jadi upacara kematian merupakan kesenangan belaka karena para pengunjung bebas untuk memperlihatkan kebolehannya.Apabila kita lihat dari segi sosial upacara kurang baik.Bagaimana bagi rakyat biasa yang kurang mampu?. Pastinya ia akan berhutang,seperti pepatah “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”.

Mungkin tidak semua dari suku dayak seperti ini. Untuk itu sebaiknya upacara adat seperti ini harus di dukung dengan rasa gotong royong yang cukup tinggi agar tidak memberatkan bagi masyarakat yang kurang mampu.

 

Apabila ada yang salah mohon dibuka pintu maaf  yang sebesar – besarnya khususnya kepada masyarakat dayak. Karena kurangnya ilmu dan pengetahuan dari saya.Terima kasih.

 

Sumber       :

Raimondus Daniel,

Dinas pariwisata Kalimantan

Google

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s